
Awalnya saya mengira padel hanyalah versi lucu dari tenis—raketnya bolong, bolanya lambat, lapangannya mungil. Tapi dalam waktu singkat, Instagram saya dipenuhi wajah-wajah familiar yang berpose dengan raket berwarna pastel di lapangan biru terang. Teman kantor, kenalan lama, bahkan rekan kerja yang biasanya lebih suka CrossFit, kini rutin main padel tiap akhir pekan. Rasanya, jika saya tidak ikutan, saya seperti bukan bagian dari percakapan kota ini.
Fenomena padel muncul seperti meteor dalam dunia gaya hidup urban. Lapangan-lapangan padel bermunculan di Jakarta, BSD, Bali, bahkan kota-kota satelit. Dalam dua tahun terakhir, padel telah bermetamorfosis dari sekadar olahraga alternatif menjadi simbol sosial baru. Olahraga ini ringan, menyenangkan, dan paling penting—sangat Instagrammable. Tapi di balik lonjakan popularitasnya, ada dinamika menarik tentang bagaimana kita memaknai olahraga, relasi sosial, dan kebutuhan untuk terlihat relevan.
Olahraga atau Sinyal Sosial?
Padel bukan hanya soal olahraga. Ia telah menjadi kegiatan sosial yang menyatukan jejaring profesional, gaya hidup sehat, dan sinyal sosial yang halus tapi kuat. Bermain padel berarti Anda “tahu tren”, cukup punya waktu luang, dan berada dalam komunitas tertentu. Raket yang modis, pakaian olahraga bergaya athleisure, hingga lokasi lapangan di lingkungan premium, semuanya memperkuat citra padel sebagai olahraga kelas menengah-atas.
Di era digital, visual adalah mata uang sosial. Lapangan padel yang estetik menjadikannya tempat ideal untuk memproduksi konten. Selfie dengan raket, boomerang saat servis, atau video slow-motion smash jadi bagian dari narasi “I’m in”—saya terlibat, saya tidak ketinggalan. FOMO (Fear of Missing Out) bekerja diam-diam tapi efektif: kita bermain bukan hanya karena ingin sehat, tapi karena takut kehilangan momen, cerita, dan koneksi.
Tidak ada yang salah dengan mengikuti tren, termasuk tren olahraga. Tapi menarik untuk diamati bagaimana olahraga bisa berubah menjadi ajang pembuktian eksistensi. Kita mungkin tidak sadar bahwa kita mulai menilai diri (dan orang lain) dari apakah mereka sudah mencoba padel atau belum. Pertanyaan seperti, “Kamu udah pernah main padel belum?” bisa terdengar sepele, tapi menyiratkan pembagian antara yang update dan yang belum.

Simbol Baru dalam Kultur Urban
Padel dalam konteks ini bukan sekadar raket dan bola, tapi simbol identitas. Seperti halnya kopi susu kekinian, sepeda lipat saat pandemi, atau lari maraton sebelumnya—padel menjelma jadi ekspresi kebaruan dan keterhubungan. Ia merepresentasikan cara hidup urban yang haus makna dan koneksi, namun kadang terjebak dalam siklus validasi sosial.
Menariknya, padel juga menawarkan sesuatu yang banyak orang cari setelah pandemi: keintiman sosial yang tidak terlalu formal, tapi cukup aktif untuk merasa produktif. Tidak seperti golf yang terkesan terlalu korporat, atau gym yang terasa individual, padel menawarkan keseimbangan antara fun dan functional, antara performa dan pertemanan.
Tapi seperti tren gaya hidup lainnya, cepatnya adopsi padel juga menimbulkan pertanyaan: apakah ini akan berumur panjang? Apakah padel akan bertahan sebagai olahraga, atau memudar ketika tidak lagi viral? Ketika tren berpindah ke pickleball atau paddle yoga, apakah kita akan tetap bermain karena cinta, atau mencari tren baru demi tidak tertinggal?
Saatnya Bertanya, Bukan Mengejar
Yang patut dipertanyakan adalah: apakah kita benar-benar menikmati padel? Ataukah kita hanya ingin menjadi bagian dari narasi besar yang sedang tren? Ketika olahraga dilakukan karena tekanan sosial, bukan kesadaran diri, maka manfaat sehatnya bisa bergeser jadi tekanan baru.
Padel bisa jadi pintu masuk yang menyenangkan untuk hidup aktif dan bersosialisasi. Tapi jika raket yang kita genggam lebih terasa sebagai beban eksistensial daripada alat permainan, mungkin kita perlu jeda sejenak. Bukan untuk berhenti, tapi untuk bertanya: apakah saya benar-benar ingin main, atau hanya takut tertinggal?
Lapangan boleh biru, raket boleh trendi, tapi yang paling penting: apakah kita hadir di sana dengan diri sendiri—bukan sebagai bayangan dari ekspektasi sosial di feed orang lain?



